Bekal-bekal Pernikahan bag.3 (Akad Nikah)

Akad Nikah, Rukun dan Syarat-Syaratnya

Disunnahkan ketika hendak akad nikah, memulaidengan khutbah sebelumnya yang disebut khutbah Ibnu Mas’ud (khutbatul hajjah, pent) yang disampaikan oleh calon mempelai pria atau orang lain diantara para hadirin. Dan lafadznya sebagai berikut :

اِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ،وَنَتُوْبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِاَنْفُسِنَا وَ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَمُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَهَادِيَ لَهُ ، وَاَشْـهَدُ اَنْ لاَاِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

“Sesungguhnya segala puji bagi Allah. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan dan ampunan-Nya, serta kami berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal usaha kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya dan barangsiapa yang disesatkan oleh Allah, maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak yang berhak diibadahi melainkan Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya”. (HR. Imam yang lima dan Tirmidzi menghasankan hadits ini). Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Muamalah. Tag: , , . Leave a Comment »

Bekal-bekal Pernikahan bag.2 (Meminang)

Khitbah (Meminang)

Rasulullah bersabda:

“Apabila seorang diantara kalian mengkhitbah (meminang) seorang wanita, maka jika dia bisa melihat apa yang mendorongnya untuk menikahinya maka lakukanlah” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

Dalam hadits lain:

“Lihatlah dia, sebab itu lebih patut untuk melanggengkan diantara kalian berdua” (HR. At-Tirmidzi, 1087)

Hadits tersebut menunjukkan bolehnya melihat apa yang lazimnya nampak pada wanita yang dipinang tanpa sepengetahuannya dan tanpa berkhalwat (berduaan) dengannya.

Para ulama berkata: “Dibolehkan bagi orang yang hendak meminang seorang wanita yang kemungkinan besar pinangannya diterima, untuk melihat apa yang lazimnya nampak dengan tidak berkholwat (berduaan) jika aman dari fitnah”. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Muamalah. Tag: , , . Leave a Comment »

Bekal-bekal Pernikahan bag.1

Muqaddimah

Islam adalah agama yang syumul (universal). Agama yang mencakup semua sisi kehidupan. Tidak ada suatu masalah pun, dalam kehidupan ini, yang tidak dijelaskan. Dan tidak ada satu pun masalah yang tidak disentuh nilai Islam, walau masalah tersebut nampak kecil dan sepele. Itulah Islam, agama yang memberi rahmat bagi sekalian alam.

Dalam masalah perkawinan, Islam telah berbicara banyak. Dari mulai bagaimana mencari kriteria bakal calon pendamping hidup, hingga bagaimana memperlakukannya kala resmi menjadi sang penyejuk hati. Islam menuntunnya. Begitu pula Islam mengajarkan bagaimana mewujudkan sebuah pesta pernikahan yang meriah, namun tetap mendapatkan berkah dan tidak melanggar tuntunan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, begitu pula dengan pernikahan yang sederhana namun tetap penuh dengan pesona. Islam mengajarkannya.

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Muamalah. Tag: , . Leave a Comment »

Ikan yang Sangat Lezat

al-Marwazi pernah bercerita, “Suatu hari, Abu Abdil Humaid pernah membeli seekor ikan dari pasar. Setibanya di rumah ia langsung menuju ke kamarnya untuk membaringkan tubuhnya dan ia pun tertidur pulas.

Sang istri yang melihat seekor ikan segar di meja segera memasaknya dan kemudian memakannya bersama-sama dengan beberapa orang tetangganya. Ketika tak ada lagi yang tersisa dari ikan tersebut kecuali hanya tulang-tulangnya, sang istri pun mengusapkan tangannya yang belum dicuci ke mulut dan tangan suaminya yang sedang tertidur.

Tak berapa lama kemudian Abu Abdil Humaid terjaga dari tidurnya dan memerintahkan istrinya untuk memasak ikan yang baru saja ia beli untuk makan siangnya.

Sang istri berkata, “Dasar pikun! Bukankah engkau sudah memakannya tadi, kemudian engkau langsung tidur tanpa mencuci tanganmu terlebih dulu?

Abu Abdil Humaid pun segera mencium mulut dan kedua tangannya, ternyata ia dapati bau ikan pada keduanya. Ia pun segera mencuci tangannya dan berkata, “Belum pernah aku merasakan ikan selezat ini. Sekarang aku lapar lagi, tolong siapkan makan siang untukku sekali lagi!”

(Qashashul ‘Arab, karya Ibrahim Syamsuddin)

Ditulis dalam Senyum. Tag: , . Leave a Comment »
Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.